Posts

Keliru

Image
Kamu bilang kamu cinta aku,  Kamu bilang kamu sayang aku, Kamu bilang, aku wanitamu. Kamu bilang kita akan terus bersama,  Sampai hari menua  Dan janji akan tetap tertawa  Jikalau masalah seberat apapun jua Kamu bilang kamu tidak akan meninggalkanku  Seperti dia yang meninggalkanmu lebih dulu  Katamu kita akan tetap satu Walau sampai sekarang status kita tidak bersatu  Halah.  Aku gerah.  Pada tutur kata, Yang hanya dimulut saja Tanpa ada bukti yang mengikutinya.  Tuan, ketahuilah  Tutur katamu manis,  Semanis senja di Parangtritis Tapi apalah guna  Aku sudah sering termakan kata-kata  Omong kosong yang mereka janjikan,  Tapi nyatanya mereka tetap meninggalkan.  Satu-dua-tiga-empat,  Berapa bisa ku hitung?  Ah, aku saja sampai bingung.  Karena janjimu terlalu menggunung. 

#2: Unsent Letter

Untuk siapapun-yang-merasa                di tempat. Apa kabar? Rasanya aneh ya? Enam tahun tidak saling bertegur sapa, tiba-tiba aku menanyakan kabar. Enam tahun tidak pernah bertatap muka, tiba-tiba aku menanyakan kabar. Enam tahun seperti tidak saling mengenal, lalu tiba-tiba aku datang menanyakan keadaan. Aneh, ya?  Ah, tidak juga. Nyatanya kamu yang lebih aneh. Kamu yang tiba-tiba pergi tanpa berpamitan, kamu yang tiba-tiba menjauh tanpa memberikan alasan, bukankah itu aneh? Aneh menurutku, jika menurutmu tidak, kamu gila.  Mari kita bahas. Aku sudah siap dengan segala resiko yang akan aku hadapi jika membahasnya; mulai dari rindu yang tiba-tiba muncul kembali, perasaan ingin menyapa yang timbul lagi, hingga tekad ingin membenarkan semuanya mulai dari awal kalau tau ending kita seperti ini. Tenang, ini aku saja kok yang merasa, kamu (mungkin) tidak. Dan ini hanya perasaanku gila saja, walau sebenarnya aku tidak akan melak...

#CERITA1: Surat dari Anna.

Sudah lama sekali rasanya nama kamu tidak lagi muncul secara rutin dihandphone saya. Lima tahun berlalu, lima tahun tak bertemu, semestinya semua baik-baik saja. Semua baik-baik saja sampai hari ini tiba. Kamu yang menyapaku terlebih dahulu, basa-basi layaknya teman baru.  "Halo," pesan pertamamu tadi malam. Lama tak saya balas, buat apa? Pikir saya.  "Apa kabar?" Lagi.  Saya pikir saya jahat kalau tidak membalas. Saya letakkan handphone saya, menunggu selama kurang lebih sepuluh menit baru saya 'beranikan' diri untuk membalas.  "Kabar saya baik."  Kemudian berdering lagi, kamu membalas lagi.  "Udah lama ya nggak ketemu, ketemu yuk!"  Hah.  Saya melihatnya kaget. Reflek saya menjatuhkan handphone. Alis saya berpautan, dahi mengernyit tak karuan.  Lalu berdering lagi.  "Saya habis putus dengan pacar saya, Ann."  Kala melihat pesan itu, kebingungan saya semakin menjadi-jadi. Sumpah, saya ...

(Bukan) Puisi

Sempat aku menanyakan  Bagaimana perasaan tuan  Namun tuan tetap tidak menyatakan  Hal jujur tentang perasaan  Aku lelah,  Gelisah,  Bagaimana kalau nanti kita berpisah?  Sedang aku tidak bisa berharap banyak,  Untuk membuat tuan agar tetap tinggal  Memangnya aku ini siapa?  Kau berjanji untuk tidak meninggalkan?  Janji untuk bertahan apapun keadaan dimasa depan?  Memangnya bisa?  Dengan status kita yang hanya sebagai  teman.  Tuan, kali ini aku menyerah  Menyerah dari segalanya yang terus aku pertanyakan  Dan kau yang tak pernah memberikan jawaban  Terimakasih, untuk beberapa tahun terakhir,  Tuan telah menjadi alasanku untuk bahagia.  Meskipun akhirnya kita harus berpisah juga.  Selamat minggu malam, teman-teman!  Salam,  Dikna Caesarean.

Hidup yang sepaket.

Hidup nggak selamanya baik, juga nggak selamanya buruk. Kalau hari ini baik, bisa jadi besok, lusa, atau kapanpun tiba-tiba menjadi buruk. Lebih naas lagi, buruk-seburuk-buruknya. Kalau sedang bahagia, bisa lupa seperti orang lupa daratan, begitu lah saya.  Semua manusia pasti pernah bahagia. Kalau nggak pernah, berarti kurang bersyukur. Semua manusia pasti pernah sedih. Karena roda itu berputar, nggak selamanya kita di atas. Semua manusia pasti sudah pernah mengalami fase-fase itu. Fase di mana lagi bahagia-bahagianya kemudian entah hal apa yang membuat kebahagiaan menjadi sebentar, berubah total, gelap, dan kesedihan itu datang. Kesedihan yang telah lama tidak dirasakan kini bertamu lagi, bertemu dengan pemilik lamanya.  Saya jadi ingat Quotes dari salah satu Komika ternama, Ernest Prakasa dalam filmnya; kadang hidup perlu ditertawakan. Begitu katanya.  Quotesnya nyambung sekali dengan apa yang sedang saya fikirkan. Saya sedang menertawakan hidup, gampangnya. Hidu...

Selamat Hari Ayah!

Tulisan ini seharusnya saya posting pada hari Sabtu, tanggal 12 November kemarin, tepatnya pada peringatan Hari Ayah nasional kemarin. Tetapi karena satu-dua hal halangan maka dari itu saya baru bisa mempostingnya sekarang.  Entah mengapa, saya sangat senang ketika membicarakan topik tentang Ayah, apalagi disuruh bercerita. Bisa-bisa saya menghabiskan berjam-jam hanya untuk memperkenalkan Ayah saya, kemudian berhari-hari untuk menceritakan segala hal tentang Beliau. Dimulai dari apa yang Beliau senangi, sampai tidak senang. Dilanjutkan dengan sifat-sifat yang menjadi panutan bagi kami (Saya, Adik saya, dan Mama saya). Kemudian bagaimana cara Beliau mendidik kami dengan cara yang begitu sederhana. Lagi, tutur kata yang selalu Beliau ajarkan, juga sopan santun yang harus dijunjung tinggi. Nggak ketinggalan, segala hal yang berbau pendidikan agama. Itu salah satu hal yang ditekankan banget oleh Beliau.  Mungkin isi dari tulisan ini sembilanpuluh persen hanya berisi curahan sa...

Pernah?

Kalau ditanya, "pernah sedih ngga?"  Semuanya pasti pernah.  Kalau ditanya lagi, "pernah nangis ngga?"  Semuanya juga pasti pernah. Kalau belum pernah, bukan manusia.  Sedih tanpa alasan, nangis tanpa sebab, pernah? Terlalu banyak hal yang ada dikepala, sampai nggak paham apa yang disedihin, nggak ngerti apa yang ditangisin. Saking banyaknya.  Rasanya seperti ingin berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan semuanya lewat ucapan, lalu, setelah teriakan reda, masalah pun ikut selesai. Tapi, seperti hal yang sangat mustahil ya? Selain memakan kepala sendiri.  Satu-dua hal bahkan tiga-empat sampai lima kejadian datang silih berganti. Ada yang menunggu masalah lama hingga selesai baru menetap, juga ada masalah yang ingin buru-buru sekali bertemu kepada pemiliknya, lalu bersanding dengan masalah lama yang belum selesai.  Kalau dibilang lemah, memang lemah. Terserah kalian mau menilai ini bagaimana. Tapi untuk kali ini saya memang benar-benar paya...